Daerah  

Ribuan Warga Krisis Air Bersih di Jawa Tengah Akibat Kemarau Panjang

Truk tangki pemerintah terus menyalurkan air bersih ke sejumlah desa yang mengalami penyusutan drastis debit sumber mata air. (Dok. BNPB)

FAKTANASIONAL.NET – Ribuan warga saat ini tengah berjuang keras menghadapi ancaman krisis air bersih di Jawa Tengah akibat musim kemarau yang melanda sejak awal Juni 2026.

Penyusutan drastis debit sumber mata air membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar harian sehingga sangat bergantung pada distribusi pasokan tangki keliling.

Tiga wilayah yang terpantau terus melakukan penanganan kedaruratan kekeringan secara intensif meliputi Kabupaten Banyumas Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten.

Di wilayah Kabupaten Banyumas petugas gabungan mendistribusikan 5.000 liter pasokan air darurat ke permukiman Desa Taman Sari Kecamatan Karanglewas.

Bantuan cairan vital tersebut langsung ditampung ke dalam wadah toren berkapasitas 4.000 liter serta ratusan ember penampungan milik masyarakat setempat.

Langkah serupa turut dilakukan oleh tim kedaruratan wilayah Kabupaten Boyolali pada Minggu (28/6/2026) guna menjaga keberlangsungan hidup warga.

Sebanyak 10 ribu liter air baku disalurkan kepada 42 kepala keluarga yang menetap di wilayah Desa Ketoyan Kecamatan Wonosegoro dan Desa Samiran Kecamatan Selo.

Dampak paling parah akibat krisis air bersih di Jawa Tengah ini tercatat menimpa ribuan kepala keluarga di wilayah administrasi Kabupaten Klaten.

Petugas daerah Kabupaten Klaten kembali mendistribusikan 60 ribu liter pasokan air menggunakan 12 unit truk tangki khusus untuk wilayah Desa Sidorejo.

Total kumulatif bantuan air yang telah disalurkan oleh otoritas Kabupaten Klaten sejak bencana melanda hingga kini telah mencapai angka 845 ribu liter.

Pasokan logistik dasar tersebut dibagikan secara merata kepada 2.970 kepala keluarga atau sekitar 9.871 jiwa yang tersebar di empat desa terdampak.

Adapun rincian empat wilayah penerima bantuan logistik tersebut mencakup Desa Tlogowatu Desa Tegalmulyo Desa Kendalsari serta Desa Sidorejo.

Warga di kawasan rawan bencana kekeringan diminta untuk menggunakan cadangan air secara bijak dan terukur selama puncak kemarau berlangsung.

Otoritas pemerintah daerah juga dituntut untuk terus memperkuat langkah mitigasi serta memastikan infrastruktur ketersediaan air tetap berfungsi di kawasan pelosok.

(*Red)