Suahasil Harus Cepat Berantas Rokok Ilegal, Pajak Negara Terancam Soalnya Gudang Garam udah Bersuara!

Suahasil Harus Cepat Berantas Rokok Ilegal, Pajak Negara Terancam Soalnya Gudang Garam udah Bersuara!/Instagram

GUDANG Garam udah buka mulut Wkwkwk.

Pergantian Menteri Keuangan bukan sekadar pergantian nama di kursi bendahara negara.

Dalam ekonomi, pergantian pejabat pada posisi strategis bisa dibaca pasar sebagai perubahan arah kebijakan.

Karena itu, ketika Purbaya Yudhi Sadewa dicopot Presiden Prabowo Subianto pada Senin, 14 September 2026, kemudian digantikan Suahasil Nazara, yang bergerak bukan hanya politik, tetapi juga ekspektasi.

Salah satu buktinya terlihat di lantai bursa.

Saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) langsung tertekan. Pada perdagangan pagi 15 September 2026, GGRM melemah 6,18 persen ke level Rp17.825 per saham. Saham rokok lain juga ikut terkoreksi.

Angka tersebut memang tidak otomatis berarti pasar sedang “menghukum” Suahasil. Bursa bekerja berdasarkan ekspektasi, bukan sekadar fakta yang sudah terjadi.

Tetapi justru di situlah persoalannya: pasar sedang membaca kemungkinan perubahan kebijakan fiskal, terutama mengenai cukai hasil tembakau.

GGRM dan Beban Cukai yang Sudah Terlalu Berat

Sebelum Purbaya dicopot, Gudang Garam sudah menyampaikan keluhan yang seharusnya tidak dianggap sebagai suara perusahaan semata.

Manajemen GGRM mencontohkan, dari sebungkus rokok seharga Rp26.000, sekitar Rp19.000 harus disetorkan kepada negara melalui cukai dan pajak.

Pada saat yang sama, industri rokok legal menghadapi tekanan dari peredaran rokok ilegal yang tidak menanggung beban cukai seperti produk legal.

Ini menciptakan persoalan klasik: negara membutuhkan penerimaan, tetapi industri legal membutuhkan ruang bernapas.

Di satu sisi, cukai memang instrumen penerimaan sekaligus pengendalian konsumsi.

Namun di sisi lain, ketika beban fiskal semakin berat sementara rokok ilegal tetap beredar, kebijakan tersebut berpotensi menciptakan kompetisi yang timpang.

Purbaya sebelumnya memberi sinyal bahwa pemerintah tidak berencana menaikkan maupun menurunkan tarif Cukai Hasil Tembakau untuk 2027.

Sinyal stabilitas itu tentu bernilai bagi industri. Ketika orang yang memberikan sinyal tersebut tiba-tiba diganti, pasar wajar bertanya: apakah arah kebijakan ikut berubah?

Pertanyaan itu belum tentu berarti jawabannya “ya”.

Tetapi pasar tidak menunggu kepastian datang. Pasar bergerak berdasarkan kemungkinan.

Pencopotan Mendadak dan Pertanyaan yang Belum Selesai

Yang membuat pergantian ini semakin menarik adalah prosesnya.

Pada 14 September 2026, Purbaya masih mengikuti rapat bersama DPD RI. Rapat bahkan sempat diskors setelah ia menerima telepon dari Istana.