Jazir menginterpretasikan langkah politik Prabowo yang merangkul hampir semua kekuatan politik sebagai bentuk demokrasi terpimpin. “Semua partai ada, tapi harus satu suara. Semua partai boleh ada, tapi satu suara. Semua dirangkul,” jelasnya.
Peringatan Pergeseran ke Nasakom
Lebih lanjut, Ustaz Jazir memberikan pandangannya mengenai potensi risiko dari konsolidasi politik penuh ini. Ia khawatir jika seluruh kekuatan politik telah berhasil disatukan dalam satu suara, akan ada satu partai atau kekuatan dominan yang memanfaatkan situasi tersebut.
Menurutnya, kondisi ini berpotensi menggeser lanskap politik dari Resopim menjadi “Nasakom” (Nasionalis, Agama, Komunis). Dalam konteks ini, ia memperingatkan adanya potensi satu kekuatan yang menggunakan konsolidasi itu untuk menyingkirkan lawan-lawan politiknya di kemudian hari.[dit]










