Euforia Swasembada Beras dan Amnesia Kegagalan Masa Lalu

Foto Ilustrasi/scsht instagram.

Dalam konteks ini, kegagalan mempertahankan swasembada beras di era Jokowi seharusnya menjadi pelajaran penting bagi Presiden Prabowo, bukan sekadar catatan yang dilupakan.

Narasi keberhasilan swasembada beras juga sering mengabaikan dimensi lainnya. Upaya swasembada sering dibayar mahal oleh petani melalui tekanan biaya produksi, degradasi lahan, ketergantungan pupuk kimia, dan kebijakan harga yang tidak selalu berpihak.

Ketahanan pangan sejati menuntut kesejahteraan petani. Tanpa petani yang sejahtera dan sistem produksi yang ramah lingkungan, swasembada hanya akan menjadi pencapaian sesaat.

Membanggakan swasembada beras tanpa menempatkannya dalam kerangka ketahanan pangan yang menyeluruh berisiko mengulangi siklus lama. Euforia pencapaian, diikuti kelengahan kebijakan, lalu kegagalan mempertahankan hasil. Indonesia tidak kekurangan pengalaman untuk memahami hal ini.

Tantangannya bukan membuktikan bahwa negara mampu melakukan swasembada, melainkan membangun sistem pangan yang tahan krisis, beragam, berkeadilan, dan berkelanjutan. Tanpa itu, swasembada hanyalah statistik politik yang mudah runtuh ketika kenyataan berubah.[***]

Oleh: Hamdi Putra, Forum Sipil Bersuara (FORSIBER) dan Mantan Jurnalis Media Arus Utama Nasional.