Krisis Energi Membayang, China Desak Iran Segera Pulihkan Navigasi di Selat Hormuz

Selat Hormuz/(instagram)

“(Namun) kebebasan dan keamanan navigasi di selat internasional ini harus dipastikan. Memulihkan lalu lintas normal di selat ini merupakan seruan bersama dari komunitas internasional,” tambah Wang.

Latar Belakang Penutupan dan Dampak Logistik

Ketegangan di Selat Hormuz sempat mereda saat Iran dan Amerika Serikat menyepakati gencatan senjata dua pekan mulai 8 April lalu.

Namun, Iran membatalkan niat membuka kembali selat tersebut karena menilai Israel masih terus melancarkan serangan terhadap Hizbullah di Lebanon, yang merupakan sekutu utama Teheran.

Penutupan ini pun mulai memukul ketahanan energi China. Analis dari JLC Network Technology, Han Zhengji, menjelaskan bahwa meskipun Beijing mencoba mencari alternatif dari Afrika dan Amerika Selatan, kendala logistik akibat konflik tetap tak terhindarkan.

“Situasi di Timur Tengah dapat memperketat pasokan minyak mentah China pada bulan April, meskipun dampaknya akan diredam oleh upaya berkelanjutan Beijing untuk mendiversifikasi sumber impornya,” ujar Han.

Mendorong Diplomasi dan Gencatan Senjata

Selain menyinggung soal jalur pelayaran, Wang Yi memastikan bahwa China tetap berdiri sebagai mediator yang mendukung upaya perdamaian di kawasan tersebut.

Beijing menilai bahwa mempertahankan gencatan senjata adalah langkah paling logis bagi stabilitas nasional Iran maupun dunia.

Wang menyatakan kesiapan China untuk terus mendorong perundingan damai dan mempromosikan peningkatan hubungan antarnegara di kawasan Timur Tengah demi mengakhiri kebuntuan yang telah memicu krisis energi global ini.