“Mereka memulai siaran langsung sambil berboncengan motor keliling Kota Sragen melewati Stadion Taruna dan Alun-Alun Sasana Langen Putra,” kata Kapolres Dewiana, dikutip dari RMOLJateng.
Kawasan underpass sengaja dipilih oleh ketiga remaja ini sebagai titik akhir perjalanan sekaligus lokasi puncak konten. Suasana underpass yang sepi dan gelap dinilai sangat cocok untuk memberikan efek horor yang dramatis guna memancing emosi dan jumlah penonton.
Siaran langsung pocong tersebut sempat ditonton oleh ratusan warganet sebelum akhirnya disergap dan dihentikan paksa oleh Tim Satintelkam Polres Sragen.
“Mereka dibawa ke Mapolres Sragen,” tambah Kapolres.
Tidak Ada Motif Pidana, Polisi Panggil Orang Tua dan Sekolah
Setelah dilakukan pemeriksaan intensif di Mapolres Sragen, pihak kepolisian tidak menemukan adanya unsur atau motif tindak pidana dari aksi tersebut. Ketiga remaja tersebut murni hanya ingin menghibur netizen sekaligus menaikkan angka interaksi (engagement) akun TikTok mereka.
Meski demikian, polisi tidak melepaskan mereka begitu saja. Langkah pembinaan tetap diambil agar kejadian serupa yang dapat membahayakan pengguna jalan atau memicu kepanikan tidak terulang kembali.
“Namun kami tetap memberi pembinaan tegas dengan memanggil pihak orang tua serta sekolah karena konten seperti ini sangat meresahkan masyarakat,” pungkas AKBP Dewiana menegaskan akhir dari kasus tersebut.
Baca Juga: Fenomena Runtuhnya Legitimasi MBG di TikTok











