SIA Tambah Penerbangan, Atasi Dampak Erupsi Anak Krakatau

Penerbangan SIA delay berjam-jam. Foto: Instagram

Di Lampung, BMKG Stasiun Klimatologi mencatat konsentrasi PM2,5 sebesar 36,6 mikrogram per meter kubik atau berada dalam kategori sedang.

Meski belum masuk kategori berbahaya, masyarakat tetap diminta membatasi aktivitas di luar ruangan atau menggunakan alat pelindung diri.

Kepala Stasiun Klimatologi Lampung BMKG, Indra Purna, mengingatkan abu vulkanik memiliki karakter berbeda dari debu biasa karena mengandung partikel kasar dan silika yang dapat mengganggu saluran pernapasan, mata dan kulit.

BBMKG Wilayah II menyatakan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau sudah tidak terdeteksi di Tangerang Raya, termasuk Tangerang Selatan.

Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9, klaster abu yang sebelumnya berada di beberapa lapisan atmosfer bergerak ke arah yang tidak lagi mengarah ke Tangerang Raya.

2.961 Penerbangan Terdampak Erupsi Gunung Anak Krakatau

Namun, perkembangan tersebut harus dibaca bersamaan dengan fakta bahwa Gunung Anak Krakatau kembali mengalami tiga erupsi pada Selasa pagi.

Dengan kata lain, abu mulai menjauh dari sebagian wilayah terdampak, tetapi sumber gangguannya belum berhenti.

Inilah yang membuat situasi penerbangan masih sangat bergantung pada arah angin, ketinggian abu, konsentrasi abu di ruang udara serta hasil pemantauan otoritas penerbangan. (*)