Pemimpin yang hebat berani menginisiasi dan mengambil langkah konkret hari ini.
Visi besar (misalnya, resolusi mengatasi pandemi atau target perusahaan 5 tahun ke depan) hanya bisa tercapai jika ada konsistensi melangkah dari titik nol.
– Hiduplah di Masa Kini
Lao Tzu memberikan diagnosa psikologis yang tajam bagi para pemimpin yang rentan tertekan:
Jika Anda depresi, Anda sedang hidup di masa lalu (menyesali kesalahan dan kegagalan yang sudah tidak bisa diubah).
Jika Anda cemas, Anda sedang hidup di masa depan (mengkhawatirkan ramalan, target, dan skenario buruk yang belum tentu terjadi).
Jika Anda merasa tenang dan damai, Anda hidup di masa kini. Fokuslah menyelesaikan masalah hari ini dengan baik, maka masa depan akan penuh harapan.
– Tolaklah Mentalitas Mengeluh
“Masa lalu tidak punya kekuatan untuk menghentikan keberadaanmu saat ini. Hanya keluhanmu yang dapat membuat masa lalu melakukan itu.” – Lao Tzu
Emosi lama dan beban masa lalu sebenarnya tidak memiliki kekuatan nyata hari ini. Yang membuatnya mengikat dan memberatkan langkah adalah sikap “cengeng” dan kecenderungan untuk terus mengeluh (“Coba saja kemarin begini…”).
Pemimpin sejati memiliki seni melepaskan (mengikhlaskan) agar organisasi bisa move on.
– Kelembutan Menaklukkan Kekerasan
“Air adalah benda yang paling lembut, meski begitu ia dapat menembus gunung dan bumi… Yang kaku dan keras adalah murid kematian, sementara yang lembut dan lentur adalah murid kehidupan.” – Lao Tzu
Dalam Taoisme, “lembut” bukan berarti lemah, rapuh, atau lembek, melainkan lentur (fleksibel/adaptif). Ibarat sabuk yang bisa menyesuaikan ukuran perut, pemimpin yang lentur mampu beradaptasi dalam segala krisis. Jika pemimpin terlalu kaku (seperti es), saat dihadapkan pada tekanan keras, ia akan pecah dan hancur.
Prinsip kelenturan ini memungkinkan pemimpin menyelesaikan konflik tanpa harus menciptakan benturan yang merusak.
– Bahaya Keserakahan dan Ketidakpuasan
“Tidak ada kutukan yang lebih besar daripada merasa kurang puas, tidak ada dosa yang lebih besar daripada selalu ingin memiliki.” – Lao Tzu
Sejarah mencatat banyak pemimpin besar (seperti Napoleon atau Hitler) yang jatuh dan kelelahan karena mentalitas tidak pernah puas.
Organisasi yang dipimpin oleh orang yang kehilangan rasa syukur akan terus dipaksa berlari melebihi kapasitasnya, hingga akhirnya kelelahan (burnout), kehilangan fokus, melakukan blunder, dan menghancurkan dirinya sendiri.
– Waktu adalah Masalah Prioritas
“Waktu adalah sesuatu yang diciptakan. Maka berkata ‘aku tidak punya waktu’ itu sama dengan berkata ‘aku tidak ingin’.” – Lao Tzu
Alasan klasik seorang pemimpin atau individu yang gagal mengeksekusi program adalah “sibuk” atau “tidak ada waktu”.
Menurut Lao Tzu, jika Anda menganggap sesuatu itu esensial dan Anda benar-benar menginginkannya, Anda pasti akan menciptakan waktu untuk hal tersebut.
– Menghindari “Sibuk Tidak Melakukan Apa-Apa”
“Tidak melakukan apa-apa itu lebih baik dibandingkan sibuk tidak melakukan apa-apa.” – Lao Tzu
Sering kali kita merasa hari-hari dipenuhi dengan rapat, aktivitas, dan evaluasi, namun secara konkret tidak membuahkan output apa-apa.
Ilusi kesibukan ini sangat berbahaya bagi pemimpin karena menciptakan rasa lelah semu tanpa ada progres nyata (tidak naik kelas). Lebih baik secara sadar beristirahat (benar-benar tidak melakukan apa-apa) daripada menghabiskan energi untuk kesibukan kosmetik.
– Berkarya Tanpa Pamer
“Ia tidak menonjolkan diri, karenanya ia berhasil. Ia tidak membanggakan karyanya, karenanya ia tetap tegak. Ia tidak bertengkar, dan karena itulah tidak ada orang yang dapat bertengkar dengannya.” – Lao Tzu
Pemimpin yang sibuk membatasi dirinya dengan definisi sempit, pamer, dan menyombongkan karyanya adalah pemimpin yang mandek.
Kesombongan adalah tanda berhentinya proses belajar. Pemimpin sejati terus berbuat baik dalam sunyi. Ia bersifat “tidak bisa dipancing bertengkar”—jika dikritik ia berterima kasih, jika dimaki ia bersabar.
– Membaur dengan Rakyat
“Pergilah, temuilah masyarakatmu. Hiduplah bersama mereka, cintailah mereka. Mulailah dari apa yang mereka tahu, berkarya dengan apa yang mereka miliki.” – Lao Tzu
Pemimpin yang elitis dan mengambil jarak tidak akan pernah memahami esensi penderitaan rakyatnya.
Pemimpin harus turun ke bawah, tidak bersikap minteri (menggurui secara arogan), dan membangun program kerja menggunakan level bahasa serta sumber daya yang dimiliki secara lokal.
– Empat Level (Hierarki) Kepemimpinan
Lao Tzu membagi kualitas kepemimpinan dalam 4 tingkatan, dari yang terendah hingga yang paling paripurna:
• Level 4 (Terburuk): Masyarakat membenci pemimpinnya. Program akan macet dan penuh sabotase.
• Level 3: Masyarakat takut. Rakyat menurut semata-mata karena ancaman hukum dan sanksi.
• Level 2: Masyarakat menghargai dan memuji. Pemimpin terlihat sangat cerdas, hebat, dan menonjol.
• Level 1 (Terbaik): Sang pemimpin tidak terlihat kehadirannya. Saat pekerjaan tuntas, masyarakat berkata dengan bangga, “Kita sendiri yang melakukan ini!” Pemimpin terbaik adalah sutradara di balik layar yang mampu menggerakkan rakyatnya untuk mandiri dan percaya pada kekuatan mereka sendiri.
– Hukum vs Kesadaran Moral
“Semakin banyak hukum dan aturan diciptakan, akan semakin banyak pula penjahat dan pelanggar.” – Lao Tzu
Hukum ibarat pagar. Semakin banyak pagar dibangun, semakin besar kemungkinan orang tertabrak pagar tersebut.
Meskipun regulasi tetap dibutuhkan pada batas tertentu, proyek penyadaran karakter jauh lebih fundamental daripada proyek penghukuman.
Menggarap mentalitas masyarakat agar bertindak benar karena kesadaran moral akan lebih efektif secara jangka panjang dibandingkan memaksa mereka patuh karena takut tilang.
– Lingkaran Kepercayaan (Trust)
“Kalau engkau tidak dapat dipercaya masyarakat, maka masyarakat tidak akan mempercayaimu. Kalau engkau tidak percaya masyarakatmu, engkau membuat mereka tak dapat dipercaya.” – Lao Tzu
Krisis kepercayaan bersifat dua arah. Pemimpin yang selalu mencurigai, melakukan mikromanajemen ekstrim, dan tidak mempercayai niat baik bawahannya, secara tidak langsung sedang mendidik bawahannya untuk berbohong dan mencari dalih.
Sebaliknya, memberikan kepercayaan tulus adalah cara terbaik untuk melahirkan loyalitas dan kejujuran.
– Memperbaiki Kesalahan, Bukan Membuang Orangnya
“Kalau ada orang tampak jahat, jangan membuangnya. Sadarkan dia dengan kata-katamu, hargai dia dengan perbuatanmu, tukar kekurangannya dengan kebaikanmu.” – Lao Tzu
Pemimpin harus bisa memisahkan antara pelaku dan perbuatan. Ketika ada bawahan yang berbuat salah atau jahat, jangan serta-merta membuang dan memusuhinya. Lakukan pendekatan restoratif: buang kejahatannya, revisi perilakunya, namun hargai eksistensi manusianya.
Membalas kejahatan dengan balas dendam hanya akan melipatgandakan musuh dan membuat sang pemimpin sama jahatnya dengan yang ia benci.
Penutup: Paradoks Kesempurnaan
Sebagai penutup dari seluruh rangkaian pedoman di atas, Lao Tzu mengingatkan kita pada satu prinsip emas yang berlaku bagi siapa pun yang menduduki posisi otoritas:
“Kesempurnaan adalah kesediaan untuk tidak sempurna.” – Lao Tzu
Manusia secara alamiah selalu berambisi mengejar kesempurnaan—ingin karya terbaik, hasil tanpa cacat, dan reputasi yang tak tersentuh.
Namun paradoksnya, titik kesempurnaan tertinggi seorang manusia justru terletak pada momen ketika ia menyadari, menerima, dan bersedia merangkul ketidaksempurnaannya.
Pemimpin yang menuntut kesempurnaan mutlak dari dirinya dan orang lain akan menjadi tiran yang kaku, mudah depresi, dan dibenci.
Sebaliknya, pemimpin yang memahami bahwa ia hanyalah manusia biasa—yang bisa salah, perlu belajar dari rakyatnya, dan bersedia dikritik—adalah manifestasi sejati dari kelenturan dan kelembutan Tao.
Dengan merangkul ketidaksempurnaan, seorang pemimpin akan terus berproses, beradaptasi, dan berjalan selaras dengan harmoni kehidupan alam semesta.
“Dalam 100% Pemimpin hanya 20% yang ‘benar-benar‘ pemimpin, 35% hanya ‘merasa‘ sebagai pemimpin, sisanya hanya ingin ‘dinilai‘ sebagai pemimpin dan memilih mati.” – Faqih.[dit]











